Minggu, 05 Maret 2017

JAKARTA -- Konon, ada seorang ibu yang memiliki dua putra. Saat sudah beranjak dewasa dan berumah tangga, keduanya memilih pekerjaan yang berbeda. Satunya menjadi seorang tukang penjual cendol keliling, sementara satunya lagi menjadi penjual payung dan jas hujan. Beberapa bulan belakangan, ibu itu tampak sedih dan gelisah. Hingga suatu saat tetangganya mengetahui, "Apa gerangan yang membuat ibu murung?" Di tengah rintik hujan si ibu itu mengatakan bahwa ia sedang memikirkan seorang putranya yang sedang berjualan cendol. "Kasihan, cendolnya tidak laku," ucapnya sambil menyeka air matanya. Musim hujan berganti kemarau yang cukup terik. Anehnya, si ibu itu masih murung dan tampak gelisah. Setelah ditelisik tetangganya, rupanya sekarang ganti mengkhawatirkan putranya yang sedang berjualan payung dan jas hujan. Takut tidak laku barang dagangannya. Melihat sikap dan perasaan yang demikian, si tetangga mengajaknya ke rumah seorang ustaz untuk meminta solusi terbaik bagi hidupnya. Sang ustaz tersenyum, "Ibu, mengapa yang tidak enak-enak saja yang diingat dari putranya. Coba kalau di musim hujan ibu mengingat putra Ibu yang berjualan payung dan jas hujan. Dan, kalau musim panas ibu ingat putra ibu yang berjualan cendol. Allah membagi rezeki-Nya dengan sangat adil. Insya Allah, ibu juga akan mendapatkan ketenangan." Kisah ini menginspirasi kita bahwa hidup yang dialami manusia adalah sama, yaitu berpijak di bumi dan dunia yang sama. Ia selalu akan secara silih berganti berjalan di antara kenikmatan dan kesengsaraan, kelebihan dan kekurangan, kegembiraan dan kesedihan, kesuksesan dan kegagalan, dan seterusnya. Dua hal inilah yang akan selalu dialami oleh manusia, di mana pun dan kapan pun. Yang membedakan di antara manusia adalah bagaimana cara menyikapinya. Hanya yang memandangnya dari sisi buruk dan kurangnya saja, ia akan merasakan hidupnya tertekan (stres). Boleh jadi, nikmat yang ia rasakan sudah begitu melimpah. Namun, karena ia menggunakan perspektif kekurangan, kenikmatan itu berubah menjadi kesengsaraan pada dirinya. Sebaliknya, ada pula yang memandangnya penuh lapang dada dan rasa syukur. Meski hidup serbaberkekurangan dalam kacamata orang lain, karena ia menjalaninya penuh hikmah dan sikap positif, ia pun bisa menikmatinya. Hingga di sini, nikmat itu sesungguhnya datang dari dalam diri sendiri. Dalam kitab Al-Mu'jam al-Mufahras li al-fadz al-Quran karya Muhammad Fuad Abd Al-Baqiy disebutkan, setidaknya ada 12 perintah Allah agar manusia itu mengingat nikmat yang dianugerahkan-Nya, yaitu melalui kalimat Wadzkuru nikmatallahi. Ini artinya bahwa manusia sebaiknya lebih mengingat kenikmatan dan kenyamanan daripada ketidaknyamanan. Sama halnya ketika seseorang mendapat ujian rasa sakit, kemudian dirasa-rasa dan diingat-ingat, maka sakitnya akan semakin terasa capek, sakit, dan menyakitkan. Namun, sebaliknya, manakala hal itu sedikit dilupakan dengan mengingat hal yang nikmat dalam hidup, maka Insya Allah hal itu akan terasa lebih ringan dan bisa jadi terlupakan. Bersyukur berarti mengingat nikmat Allah. Dan orang yang senantiasa mengingat nikmat-Nya akan selalu mendorongnya untuk bersyukur kepada-Nya. Allah pun akan menambah nikmat-Nya. Tidak mudah menyalahkan dan berburuk sangka kepada Yang Mahaagung. Wallahu a'lamu. Sumber:Replublika

Sabtu, 04 Maret 2017


Jakarta -- Di antara amal yang membuat seseorang mendapatkan keberuntungan adalah shalat, baik fardu maupun sunah. Allah berfirman, "Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung." (QS al-Baqarah [2]: 5)

Mereka yang dimaksud ayat ini adalah orang yang beriman kepada hal gaib, mendirikan shalat, bersedekah dari sebagian hartanya, beriman kepada Alquran dan kitab sebelumnya, serta meyakini hari akhirat (QS al-Baqarah [2]: 2-4)

Shalat secara bahasa artinya "doa". Orang yang shalat berarti orang yang berdoa. Dalam hal ini, berdoa kepada Allah. Shalat ini ditujukan sebagai bentuk penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah. 

Seperti dikatakan dalam hadis, orang yang shalat sesungguhnya tengah bermunajat kepada Allah. Ia tengah berhadapan dengan Allah. Karena itu, seluruh bacaan shalat adalah doa, zikir, dan bacaan Alquran. Tidak ada bacaan selain itu.

Orang yang shalat, seperti disebutkan di dalam ayat Alquran di atas, termasuk orang yang beruntung, tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga dalam kehidupan akhirat.

Ia beruntung karena dengan shalatnya, Allah menjadi dekat dengannya, dan dengan shalatnya pula ia tercegah dari perbuatan keji dan mungkar atau perbuatan buruk, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (QS al-'Ankabut [29]: 45).

Orang yang telah dekat dengan Allah akan selalu dicintai oleh-Nya dan dilindungi dari hal-hal tercela, doanya selalu dikabulkan, dan dijauhkan dari hal-hal buruk. 

Jika kemudian ia tertimpa suatu cobaan, misalnya sakit, itu sejatinya ujian kesabaran dari Allah yang justru akan meningkatkan kualitas dirinya di hadapan Allah dan manusia. Dengan shalatnya pula, seseorang akan bersih lahir batin. 

Lahirnya bersih karena sebelum shalat ia selalu berwudhu, membasuh bagian-bagian wajah, tangan, kepala, dan telapak kaki, seperti disebutkan Alquran, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki." (QS al-Ma'idah [5]: 6). 

Dalam hadis bahkan dikatakan, shalat fardu lima waktu itu, seperti air sungai yang dipakai mandi seseorang sehingga ia selalu bersih dari kotoran. 

Orang yang shalat juga bersih batin karena kedekatannya dengan Allah melalui shalat, membuat hatinya selalu terpaut dan ingat Allah serta senantiasa mendapat cahaya petunjuk-Nya sehingga itu berimbas pada perilakunya. 

Hatinya jauh dari rasa dengki, takabur, riya, sum'ah atau prasangka buruk. Hatinya selalu diisi dengan Alah, rasa syukur, ikhlas, dan prasangka baik. Hati dan perilakunya selalu terkontrol dan ketika suatu saat berbuat salah ia segera sadar dan kembali kepada Allah.

Tentu saja shalat yang dimaksud di sini adalah shalat yang diiringi hati yang penuh kekhusyukan dan ketawadhuan, sementara lahirnya bersih dari hadas kecil dan besar serta mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya.  

Jadi, bukan shalat main-main atau sebatas menuntaskan kewajiban, setelah itu tetap melakukan perbuatan buruk. Wallahualam.

Sumber:republika

About Us

Our team

About the author

Video of the day

Beauty

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *